Tips Fesyen

Bertudung Juga Boleh Menggayakan Fesyen Terkini Dengan Tampil Secara Bergaya

Tips Doa

Ketika Tidak Ada Satu Pun Jalan Keluar, Doa Mengubah Segalanya

Tips Kesihatan

Tetapi Sewaktu Susah Kita Akan Lebih Menghargai Kesihatan

Tips Perkahwinan

Carilah Calon Suami Atau Isteri Yang Boleh Membahagiakan Kamu..Tak Comel Tak Apee..Boleh Tutup Lampu

Tips Kecantikan

Kecantikan Bukan Hanya Terpancar Dari Wajah Tapi Juga Perlu Kecantikan Hati Untuk Membuatnya

Cerai Ekonomi Menjamur, Atasi Dengan Islam

Ahad, 7 Muharram 1438 H / 9 Oktober 2016 14:30 wib

162 views

Oleh: Yulda (Mahasiswi Pend.Tek.Elektro dan Pelajar MHTI)

Bumi pertiwi sepertinya tak pernah sepi dari gejolak sosial. Masih hangat dalam benak masyarakat bagaimana rentetan peristiwa itu terus menghantui negeri ramah tamah ini. Mulai dari  kekerasan, pelecehan, dan narkoba  yang banyaknya menimpa generasi penerus bangsa. Kini, masyarakat kembali digegerkan dengan mencuatnya tren baru dalam kancah persoalan sosial di Indonesia yaitu kawin-cerai.

Yang menjadi sorotan umat adalah mengenai perceraian di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya. Didapatkan data yang bersumber dari kementerian agama bahwa sepanjang kurun 2010-2015 jumlah perceraian di Indonesia meningkat 15-20 persen. Pada akhir tahun 2015 terdokumentasi pernikahan sebanyak 1.151.112 dan kasus gugatan cerai 347.256.  Berarti  dalam satu jam terjadi 40 sidang perceraian. Perceraian memang bukan perbuatan yang terlarang. Akan tetapi, jika kasus perceraian yang terjadi hingga lebih 30% dari jumlah pernikahan sebagaimana yang terjadi di Indonesia saat ini, tentu saja tidak dapat dikatakan ‘wajar’ atau biasa. Ini menunjukkan, pernikahan seolah tidak lagi dianggap sesuatu yang bernilai ibadah.

Ironi. Ratusan ribu keretakan mahligai cinta itu tak hanya disebabkan oleh hubungan yang kurang harmonis, tetapi juga ada api dalam masalah finansial keluarga. Menjamurnya perceraian karena ekonomi cukup menjadi momok dalam sebagian besar kasus perceraian. Pernyebab masalah ini pun senada dengan apa yang di lontarkan oleh Menteri sosial Khofifah indar parawansa bahwa terkait pendapatan(income) sering menjadi pemicu gugat cerai istri  pada suami (liputan3.com).

Sang Tauladan sebagai Rasul, Suami dan Kepala Negara, beliau mengajarkan bahwa dalam Islam, seorang suami wajib mencari nafkah, sedangkan istri mubah. Islam sebagai agama dengan peraturan sempurna untuk manusia mampu mencegah terjadinya jamur perceraian saat ini

Darurat perceraian ini harus segera diatasi. Karena semua psikolog maupun konsultan tahu, dampak yang terkuat akan diterima oleh anak (red.generasi penerus bangsa). Jika faktor besar berasal dari himpitan ekonomi, hendaknya suami tidak boleh keburu berontak. Yakinkan diri dan terus berbaik sangka kepada Allah. Butuh kesabaran yang kuat dan mampu menahan gejolak nafsu. Selalu tawakal kepada Allah. Insya Allah, akan segera mendapat jalan keluar. Dan istri pun juga harus menahan terhadap gempuran life style materialisme yang menguras kocek. Ingatlah bahwa idola kita Rasulullah SAW mampu menghadapinya, tidak ditemukan riwayat yang menyebutkan kasus perceraian beliau dengan para istri beliau, disebabkan himpitan ekonomi dan kemiskinan yang beliau alami. Karena sejatinya orang yang menikah telah menjadi kewajiban Allah untuk menolongnya. Sebagiamana yang disebutkan dalam hadis sahih dari Abu Hurairah ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ada tiga orang; telah menjadi kewajiban Allah untuk menolongnya: Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya, dan budak yang ingin menebus dirinya.” (H.R. Nasa’i dan Turmudzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Sang Tauladan sebagai Rasul, Suami dan Kepala Negara, beliau mengajarkan bahwa dalam Islam, seorang suami wajib mencari nafkah, sedangkan istri mubah. Islam sebagai agama dengan peraturan sempurna untuk manusia mampu mencegah terjadinya jamur perceraian saat ini. Seperti yang diriwayatkan bahwa seorang lelaki Anshor(warga Daulah Islam) yang datang menghadap meminta pekerjaan kepada Rasulullah SAW yang saat itu sebagai Kepala Negara. Rasulullah lalu  bertanya tentang alat rumah tangganya. Lelaki itu menjawab bahwa ada kain dan mangkuk besar. Selanjutnya, Rasul meminta untuk membawa barang tersebut kepadanya, lalu Rasul melelangnya. Dan akhirnya terjual dengan harga 2 dirham. Rasulullah berpesan seraya memberikan uang tersebut bahwa satu dirham untuk membeli keperluanmu dan satu dirham belikan sebuah kapak. Perbuatan yang Rasulullah contohkan supaya warganya tidak berpasrah diri dan menjadi seorang pengemis, akan tetapi mencari nafkah untuk keluarganya.

Adapun ketika sang tulang punggung keluarga sudah tidak mampu mencari nafkah, secara Islam tanggung jawab ini akan di limpahkan terlebih dahulu kepada kerabatnya. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan  secara boros.” (Al-Isra’:26)

Jika kerabatnya pun tidak mampu, maka akan segera diberikan bantuan oleh Baitul Mal (negara). Karena Islam mewajibkan negara menjamin kebutuhan primer/pokok/al-hajat al-asasiyah  yang berupa pangan, papan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan keamanan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kewajiban ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti kewajiban menyediakan pangan, papan, dan sandang sesuai Al-Baqarah:233, At-Thalaq:6, dan kutipan hadist Rasulullah SAW:

Anak Adam tidak mempunyai kebutuhan selain dari sepotong roti untuk menghilangkan laparnya, seteguk air untuk meredakan dahaganya dan sepotong pakaian untuk menutup auratnya. Dan lebih dari itu adalah keutamaan.” (Al-Hadist).

Dengan berbagai lapisan kebijakan penunjang ekonomi keluarga yang bersumber dari Sang Khaliq diatas. Maka InsyaAllah perceraian dengan modus utama ekonomi akan terhindar dan keluarga berkah.  Berbanding terbalik dengan sistem kapitalisme dalam aturan-aturan yang berlaku sekarang. Sistem ini telah menyebabkan kerusakan di bidang sosial bahkan sampai ke ranah rumah tangga.

Inilah kedigdayaan sistem Islam yang hanya mampu diterapkan dalam naungan Khilafah. Islam rahmatan lil’alamin, tidak hanya menyelesaikan satu masalah perceraian saja tetapi juga menyelesaikan masalah lainnya seperti perbaikan finansial, membina generasi penerus, dan berkurangnya masalah sosial lainnya. Semoga para pembaca dan penulis termasuk kedalam orang-orang yang mau memperjuangkan penerapan peraturan agama Islam secara sempurna dengan ikhlas hingga tegak Khilafah yang sesuai metode kenabian.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf:96). [syahid/voa-islam.com]

Wallahu’alam bish shawab.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Kisah Mualaf Angel: Laki-laki Muslim itu Akhlaknya Luar Biasa Menakjubkan!

Sabtu, 6 Muharram 1438 H / 8 Oktober 2016 11:34 wib

39 views

Assalamu’alaikum. Namaku Angel dari USA. Sejak awal, aku percaya akan adanya satu Tuhan. Kehidupan yang kulalui tidak mudah. Keluargaku ‘rusak’ dan masyarakat tempat aku tinggal juga tidak lebih baik keadaannya. Aku sering menangis meminta tolong kepada Tuhan untuk bisa lepas dari seluruh rasa sakit ini. Aku bersimpuh memohon padaNya di dapur. Itu karena aku tidak percaya terhadap gereja dengan konsep manusia yang menjadi perantara antara jamaahnya dengan Tuhan. Satu konsep yang tidak masuk akal.

Ketidakpercayaanku ini juga berlaku untuk keyakinan terhadap Yesus. Bagaimana mungkin seorang manusia rela mati demi menebus dosa manusia lainnya? Di pihak lain, bagaimana bisa kita mendapat dosa turunan juga? Aku tak percaya dengan Bible sama sekali. Ini adalah kitab yang sudah diterjemahkan dan ditulis ulang berkali-kali. Bagaimana kita bisa yakin bahwa kitab ini berasal dari Tuhan jika begini keadaannya?

Usia 15 tahun, aku sempat menyerah dalam pencarian terhadap eksistensi Tuhan. Saat beranjak dewasa, aku baru menyadari bahwa setiap orang memunyai masalahnya sendiri-sendiri. Tipikal masyarakat Amerika. Ayahku adalah buruh kasar yang pemabuk. Ia sering melakukan kekerasan baik seksual maupun fisik sehingga membekas cukup dalam pada diriku. Saat aku kelas 6 SD, dia meninggal setelah sebelumnya sakit keras dan bercerai dari ibuku. Sejak saat itu, ibu bekerja membanting tulang untuk menafkahi kedelapan anaknya. Aku adalah si bungsu yang sering ditinggal sendiri di rumah saat ibu bekerja.

Aku pun tumbuh menjadi anak yang menutup diri dari lingkungan. Aku berpakaian serba hitam dan memakai make up gelap. Aku menyebut diriku beraliran gothik dan sangat suka berimajinasi tentang kematian. Menurutku, hanya kematian yang bisa membuatku lepas dari seluruh rasa sakit kehidupan ini. Rasa sakit dalam jiwa membuatku memilih minuman beralkohol, merokok dan seks bebas menjadi pelarian. Sekitar 15 kali aku mencoba bunuh diri. Semua itu kulakukan untuk menghilangkan rasa nyeri dalam jiwa. Tapi tetap, rasa itu tak pernah mau pergi.

...Aku benar-benar dibuat takjub ketika menyaksikan laki-laki itu bukan hanya menggendong putriku yang baru lahir tapi juga mengajaknya bicara dengan sangat lembut. Seumur hidup aku tak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini...

Aku hamil anak pertama saat duduk di bangku kuliah. Meskipun lahir tanpa ayah akibat gaul bebas, aku tak ingin menggugurkannya. Aku merawatnya dan bekerja demi bisa memberinya makan. Rasa perih dalam jiwa mulai terlupakan karena kehidupanku fokus pada anak. Tiga tahun kemudian aku berpacaran dan tunangan. Aku pun hamil anak kedua. Kali ini, aku memilih laki-laki yang salah lagi. Ia selingkuh dan sering menyiksaku. Aku pun semakin tak percaya lagi dengan siapa pun khususnya laki-laki.

Karena butuh makan, aku bekerja pada laki-laki Pakistan yang beragama Islam. Aku tak terpengaruh pendapat negatif mayoritas orang tentang Muslim. Itu karena aku tidak suka nonton TV yang sering buruk dalam memberitakan Islam dan pemeluknya. Aku pun berteman dengan beberapa Muslim. Di titik inilah aku menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Orang-orang Islam ini memunyai akhlak yang menakjubkan. Ketaatan mereka pada Tuhan dibuktikan dengan ibadah sebanyak lima kali sehari. Mereka tidak minum-minuman keras dan tidak mengkonsumsi narkoba. Untuk ukuran Amerika, mereka bisa dibilang jenis manusia kuno.

Saat anak keduaku lahir, aku pun semakin takjub dengan apa yang mereka lakukan. Tanpa segan, mereka datang memberi putriku hadiah dan bahkan menggendongnya. Aku benar-benar dibuat takjub ketika menyaksikan laki-laki itu bukan hanya menggendong putriku yang baru lahir tapi juga mengajaknya bicara dengan sangat lembut. Seumur hidup aku tak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini. Berikutnya bisa ditebak, aku semakin penasaran terhadap agama yang mengajarkan kebaikan dan kelembutan ini.

Satu hari, aku meminjam komputer dari salah satu laki-laki muslim tersebut. Aku terlalu segan untuk bertanya langsung pada mereka tentang Islam. Jadilah aku berusaha mencarinya sendiri di internet. Situs http://ift.tt/2dCtzWb. adalah yang pertama kali kubuka. Saat itu juga aku seolah tak bisa berkata-kata. Seluruh kegelapan seolah terangkat dari jiwaku. Aku berani bersumpah bahwa saat itu aku tidak pernah merasa sedekat itu dengan Tuhan.

Tak butuh waktu lama, 1 x 24 jam aku langsung yakin untuk berikrar syahadat.

Setelah masuk Islam, aku terus merasakan keajaiban demi keajaiban. Hatiku yang penuh amarah, dendam dan sakit hati menjadi tenang dan bersih. Semua rasa itu sirna. Sebagai gantinya aku merasakan cinta Allah yang luar biasa besar untukku. Aku pun mampu untuk berhenti dari minuman keras, rokok dan narkoba. Allah bahkan menganugerahiku laki-laki Muslim yang baik sebagai suami. Ia menganggap kedua anakku seperti anaknya sendiri. Aku pun memiliki apa yang selama ini aku rindukan: sebuah keluarga yang baik dan harmonis. Alhamdulillah. (riafariana/voa-islam.com)

Sumber: islamconverts

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Genggam Tanganku, Tuntun Langkahku Menuju CintaNya

Kamis, 4 Muharram 1438 H / 6 Oktober 2016 23:21 wib

16 views

Bagi perempuan, memilih sosok imam dalam rumah tangganya bukan perkara main-main. Ada surga dan neraka di sana sebagai taruhannya. Di satu pihak, perempuan harus selektif dalam memilih tapi di pihak lain ia juga harus realistis terhadap pilihan yang ada.

Mencari sosok Muhammad di zaman ini, seolah mengajak diri berkaca ‘sudahkah diri menjadi Khadijah atau Aisyah’? Sementara tak bisa dipungkiri bahwa stok laki-laki salih semakin menipis. Lalu, akankah standard itu layak untuk diturunkan sehingga terpenuhi syarat minimalis saja? Misal, sesama muslim.

Bagaimana bila ia mengaku muslim tapi tak layak menjadi imam? Jangankan bagi istri dan keluarga kecilnya kelak, menjadi imam bagi diri sendiri saja ia tak mampu. Salat masih harus sering diingatkan, akhlak pun masih dipertanyakan. Lalu, bisakah laki-laki seperti ini diharapkan perannya untuk membimbing istri dan anak melangkah hingga ke Jannah?

Biarlah juga dibilang pemilih. Toh, yang kita pilih bukan semata duniawi atau materi. Tapi yang dipilih dan dinanti adalah sosok laki-laki salih. Bukan semata namanya, tapi akhlak yang tercermin dari perilakunya. Tanggung jawabnya dalam mengemban amanah yang nantinya akan ditanggung setelah akad nikah resmi terikrar, mampu ia tanggung dengan baik pula.

...Bagi perempuan, memilih sosok imam dalam rumah tangganya bukan perkara main-main. Ada surga dan neraka di sana sebagai taruhannya...

Tidak harus ia sosok sempurna, karena diri pun sangat jauh dari sebutan istimewa. Cukup ia laki-laki yang menjaga hubungan baik dengan Rabbnya. Karena bila hubungan baik dengan Penciptanya ia jaga, tentu hubungan baik dengan makhlukNya tidak akan disia-sia.

Bisa jadi ia memunyai banyak kekurangan sebagai manusia, yang itu merupakan lahan amal bagi istri untuk mengisinya. Tentu saja ia pun memunyai kelebihan yang akan menumbuhkan syukur tanpa kenal alpa. Begitu sebaliknya dengan kita.

Kekurangan diri bukan menjadi alasan untuk direndahkan. Kelebihan potensi bukan pula menjadi tempat untuk bersombong ria. Intinya satu sama lain ada untuk saling menopang, menguatkan dan mendukung dalam rangka taat padaNya. Bila poin penting ini tak ada dalam satu mahligai cinta, lalu untuk apa lagi tujuan seorang muslim dalam berumah tangga?

Kerasnya ombak yang mengayun biduk, seharusnya semakin menguatkan ikatan yang ada. Saling mengenggam tangan  agar bisa melewati badai yang kencang. Tak peduli sedahsyat apa angin menerjang, tujuan awal jangan sampai surut ke belakang. Tetap fokus pada langkah dan terus berjuang tanpa kenal lelah.

Karena sungguh, tulusnya sang imam dalam memimpin mahligai akan memberikan kenyamanan yang indah. Fokus pada cita-cita untuk selalu lurus dalam meraih cintaNya. Ya...cintaNya saja yang menjadi tujuan segala amal, cita dan harapan. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Kini, Saatnya Berhijrah!

Rabu, 3 Muharram 1438 H / 5 Oktober 2016 23:32 wib

14 views

Oleh:  Tita Dewi Rosita

(Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran)

1438 tahun silam, Rasulullah SAW dan rombongan kaum Muhajirin tiba di Madinah yang disambut mesra oleh kaum Anshar yang sudah rindu akan kedatangan Beliau. Hijrahnya Rasul SAW merupakan tonggak awal tegaknya Islam kaffah di Madinah.

Merubah negara Madinah menjadi Darul Islam dimana Islam dijadikan sebagai pondasi kehidupan bernegara, menyetel arah pandang masyarakat dengan kaca mata Islam. Sejak datangnya Rasul SAW madinah berangsur membaik dan terus membaik. Masyarakat sejahtera, tentu aman sentosa.

Meneladani hijrahnya Rasul SAW dan kaum Muhajirin, tentu kita harus terlebih dahulu memaknai kata hirah itu sendiri. Secara bahasa hijrah artinya berpindah. Secara maknawi kata hijrah saat ini banyak digunakan untuk menggambarkan pindahnya seseorang dari keburukan menuju kebaikan, dari kegelapan menuju cahaya, dari keterpurukan menuju kegemilangan.

Kondisi masyarakat saat ini sepertinya sudah sangat perlu untuk berhijrah. Layaknya masyarakat Mekah sebelum Rasul SAW hijrah ke Madinah, masyarakat kini tengah berada dalam kejahiliyahan yang parah. Aqidah yang mulai terkikis menjadi fakta yang membuat miris. Hadirnya kasus Aa Gatot, Kanjeng Dimas Guntur Bumi, Eyang Subur, Lia Eden, dan sebagainya menjadi bukti bahwa akidah Islam belum tertancap tuntas pada hati sebagian masyarakat yang tunduk patuh pada manusia-manusia jahil yang mengaku nabi, rasul, kiyai, atau orang suci lainnya.

Mari kita berhijrah! Bersama rapatkan barisan, bersama samakan gerap langkah. Bersama kembali melanjutkan kehidupan Islam sebagaimana ynag telah dicontohkan oleh Baginda Rasul tercinta

Itu baru dari segi akidah, dari keterpurukan dalam aspek sosial tergambarkan oleh banyaknya tindakan kriminal (pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, perjudian, narkoba, dll)  juga bejadnya moral (maraknya perzinaan, pornografi-pornoaksi, dll).

Belum lagi dari segi ekonomi, kini riba rasanya sudah berubah hukum menjadi mubah. Tak lupa utang negara yang terus menggunung tak terbendung. Tahun ini utang negara kita sudah menembus angka Rp 4000 triliun lebih, dengan rata-rata bunga yang harus dibayar hanya dalam dua tahun (2016-2017) rata-rata Rp 200 triliun pertahun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa negri yang kaya raya ini hanya mampu membayar bunganya saja, sedang utang pokok? Entah kapan bisa lunas terbayar.

Bidang politik pun tak kalah terpuruknya, fenomena Pilkada DKI yang menyita energi pada dasarnya hanya akan memberi harapan palsu semata seperti biasanya. Masa kampanye saatnya beradu gombalan-gombalan maut para calon terpilih, setelah terpilih? Biarlah masyarakat menelan ludah dan mengelus dada sendiri.

Sebenarnya tak aneh kita hidup dalam kerusakan, sebab sistem yang menaungi juga sistem yang rusak bahkan merusak. Dimana hukum Allah SWT diabaikan, pidato sesosok manusia lebih dihargai dibandingkan dengan firman-Nya. Kebenaran dicampur-adukkan dengan kebatilan, agama dipisahkan dari kehidupan. Menyadari banyaknya kefasadan yang terjadi di muka bumi ini, tentu harusnya kita memahami bahwa segala kerusakan yang terjadi adalah buah dari rusaknya sistem yang saat ini mengatur setiap aspek kehidupan kita.

Karena itu saat ini juga mulailah perhitungkan Islam, jadikan Islam sebagai pondasi kehidupan, menjadikan ridha Allah sebagai poros kehidupan. Sudah saatnya kita kembalikan hak Allah sebagai Al-Mudabbir, Sang Maha Pengatur. Karena hanya dengan aturan yang berasal dari-Nya lah kita dapat sejahtera aman sentosa. Karena hanya dengan Islam lah ummat Islam dapat kembali berjaya dan mulia.

Maka dari itu, mari kita berhijrah! Meninggalkan kegelapan menuju cahaya gemilang. Meninggalkan keterpurukan menuju kegemilangan. Mari kita berhijrah! Bersama rapatkan barisan, bersama samakan gerap langkah. Bersama kembali melanjutkan kehidupan Islam sebagaimana ynag telah dicontohkan oleh Baginda Rasul tercinta. Bersama menegakkan Daulah Khilafah, bersama terapkan Syariah Islam. Bersama menyongsong kemenangan, bersama menyambut kemuliaan. In syaa Allah. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [syahid/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Nak Jadi Suami, Kena Tahu Bimbing Isteri!

Nabi Muhamad SAW dulu membimbing keluarganya dan menyuruh mereka dengan semua kebaikan, mengajak mereka dengan kebaikan, dan memberi motivasi kepada mereka dengan kebaikan. Inilah kewajipan seorang suami yang sebenarnya.

Tapi sayangnya, ramai di antara kita hari ini yang gagal dalam menjalankan tanggungjawab terhadap rumahtangga kita. Ramai yang kurang ambil berat tentang anak-anak sendiri dan lebih pentingkan orang sekeliling yang lain contohnya kawan-kawan dan rakan sekerja.

Ini tak sepatutnya berlaku. Ya, memang kita ada banyak tanggungjawab lain yang mungkin mengambil masa anda tapi sedarlah bahawa keluarga anda sepatutnya menjadi keutamaan anda.

Jalankan tanggungjawab pada keluarga dulu sebelum jalankan tanggungjawab sebagai jiran, kawan-kawan atau pekerja. Sebagai ketua keluarga, anda perlu ambil berat tentang pasangan dan anak-anak.

Di akhirat kelak, kita akan ditanya tentang tanggungjawab kepada suami atau isteri kita. Kita akan ditanya tentang tanggungjawab kepada anak-anak kita. Mampukah kita untuk menjawab semuanya nanti?

Mungkin kita kerja untuk bagi mereka makan dan pakai dengan mewah tapi semasa kita keluar bekerja dan bergembira dengan kawan-kawan, siapa yang mencorakkan minda mereka? Siapa yang mendidik, member ilmu pada mereka? Contoh siapa yang akan mereka ikuti? Sifat apa yang kita pupuk dalam diri mereka?

Inilah peranan yang sepatutnya dimainkan oleh ibu dan bapa. Ingat, satu hari nanti anak-anak anda akan membesar dan mencorakkan dunia. Selepas anda mati, mereka juga yang akan mendoakan anda. Perbuatan mereka boleh menentukan destinasi hidup anda – Syurga atau Neraka. Jadi didik mereka dengan sebaiknya.

Firman Allah SWT;

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: manusia dan batu (berhala)” (At-Tahriim 66:6)

Seorang lelaki mestilah tahu cara untuk mempengaruhi keluarga dengan sifat-sifat yang baik. Dia perlu sentiasa berusaha untuk membina dan melatih keluarganya. Kalau bukan anda, siapa?

Sabda Rasulullah SAW;

“Setiap daripada kamu bertanggungjawab ke atas sesuatu dan setiap daripada kamu akan ditanya tentang tanggungjawabnya” (HR Bukhari & Muslim)

(3)

Lelaki Adalah Pelindung Bagi Wanita

Allah SWT memberitahu kita bahawa lelaki adalah pelindung bagi kaum wanita, bukan penguasa. Tanggungjawabnya adalah untuk menyokong dan menjaga kebajikan wanita itu. Ia bukan satu hak, tapi sebuah tanggungjawab.

Firman Allah SWT;

Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang soleh itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya), dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa jua yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemuliharaan Allah dan pertolonganNya. (QS An-Nisaa’ 4:34)

Dan wanita yang soleh adalah mereka yang taat, setia berada di sisi suami mereka mencapai cita-cita, dan membantu dalam ibadah kepada Allah SWT.

Indahnya cara Allah SWT ciptakan lelaki dan wanita untuk saling melengkapi. Apa yang kurang pada sifat lelaki, wanita akan tambahkan dan apa yang kurang dari sifat seorang wanita, lelaki akan lengkapi. Segalanya boleh dicapai bila keduanya sepakat bersama.

Lelaki yang bertanggungjawab melindungi wanita akan membantunya kekal taat kepada Allah SWT. Dia adalah pasangannya dan penyokongnya yang komited – mereka berdua akan bina dan bentuk sebuah keluarga – dan anak-anak ini akan bina keluarga masing-masing di masa depan inshaAllah.

Dalam membina keluarga dan menjalankan tanggungjawab masing-masing, ingatlah bahawa:

1. Allah SWT telah memberikan beberapa tanggungjawab tertentu kepada kaum lelaki. Dengan tanggungjawab ini, lelaki mestilah cari cara untuk bahagikan masa dengan seimbang untuk keluarga dan juga masyarakat

2. Komuniti muslim kini kekurangan kepimpinan yang kuat dan ini adalah tanggungjawab yang perlu kita pikul bersama. Buat dengan ikhlas dan kasih sayang dengan tujuan untuk berubah. Berkorban sedikit dan bekerjasama untuk kebaikan bersama

3. Allah SWT juga mengingatkan lelaki supaya jangan mengambil kesempatan ke atas perempuan. Jangan letakkan tanggungjawab di atas satu bahu sahaja.

4. Kadang-kadang isteri rasa terlalu dikongkong oleh suami. Kadang-kadang suami pula rasa terlalu dikongkong oleh isteri. Ini bukan ajaran Islam. Sepatutnya anda berdua saling melengkapi sifat satu sama lain selain menyokong cita-cita dan tanggungjawab satu sama lain.

5. Allah SWT telah menciptakan lelaki sebagai pelindung dan wanita sebagai pembantu mereka. Masing-masing ada tugas yang tersendiri jadi tak perlu ada rasa dengki.

6. Allah SWT juga mengingatkan kita bahawa bila wanita memberi sokongan pada suaminya, wanita itu sebenarnya membantu suaminya mencapai Syurga. Dan bila anda lakukan ini bersama, suami pun akan sama-sama menarik isterinya ke Syurga.

Hakikatnya lelaki dan wanita sama-sama unik dan ada fungsi-fungsi yang tersendiri. Jika kita sama-sama fokus pada tugasan yang telah Allah SWT berikan, kita akan sama-sama berjaya di Dunia dan Akhirat.

(2)

Pentingnya Jaga Aib Suami

Ramai perempuan Muslimah di antara kita yang terlupa tentang kewajipan utama kita untuk menjaga aib suami kita.

Sebagai pengurus dan penjaga rumah, isteri selalunya ambil tanggungjawab melakukan kerja rumah dan apa-apa keperluan lain, sementara lelaki ambil tanggungjawab mencari duit di luar rumah.

Allah SWT telah mengarahkan wanita untuk menjadi “pengawal” harta dan kehormatan suami semasa suaminya tiada;

Maka perempuan-perempuan yang soleh itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya), dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa jua yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemuliharaan Allah dan pertolonganNya. (QS An-Nisaa 4:34)

Memelihara “apa jua yang wajib dipelihara” bermaksud harta suaminya, maruah dan kesucian dirinya, serta maruah dan nama suaminya.

Walaupun ramai isteri yang hebat dalam menjaga keperluan rumahtangga, rajin memasak, mengemas, cantik, pandai, setia dan sebagainya, tapi masih ramai yang lupa kepentingan menjaga aib suami.

Memang kalau dengan orang ramai, kebanyakan isteri akan memuji suami mereka tapi bila berborak dengan orang yang rapat, pasti akan terkeluar keburukan suaminya.

Hati-hati dengan kata-kata yang tak disengajakan bila berbual dengan orang lain. Menjaga aib suami adalah salah satu perintah Allah SWT kepada para wanita Muslim yang sudah berkahwin. Jadi jangan sesekali sebut kekurangan, sifat atau perbuatannya kepada orang ketiga dalam cara yang boleh merendah-rendahkannya. Kadang-kadang kita tak sebut kekurangannya, tapi kita bercakap tentangnya dalam cara yang menunjukkan kita tak suka.

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik wanita (isteri) adalah wanita yang bila dipandang menyenangkan bagimu, dan bila penrintah dia taat, dan bila kau tiada dia menjaga dirinya dan hartamu” (HR Ibn Majah)

Memang Islam membenarkan wanita dapatkan pertolongan bila ada masalah yang besar dalam rumahtangga, tapi pilih orang yang betul-betul boleh dipercayai untuk luahkan masalah anda. Pilihlah orang yang beragama, memahami dan bertanggungjawab supaya masalah anda boleh diselesaikan dengan sebaiknya tapi kisah anda pun tetap tersimpan dengan rapi.

Bila timbul masalah remeh pula, hadapilah dengan sabar dan bijak. Jangan mudah cerita pada kawan sekeliling. Paling penting, jangan mudah bawa ke media sosial. Kadang-kadang kita rasa benda biasa tapi orang lain boleh “tambah perisa” dan jadikan ia isu besar walaupun ia tak ada kena mengena dengan mereka.

Ada hikmah di sebalik semua perintah Allah SWT jadi bila para isteri disuruh untuk menjaga aib suami, percayalah mesti ada sebab yang kukuh.

Bila ada masalah, angkat tangan dan mengadu pada Allah SWT. Percaya padaNya. Kalau anda jalankan semua tanggungjawab padaNya, dia pun akan penuhkan hidup anda dengan ketenangan dan rasa bahagia.

(2)