Tips Fesyen

Bertudung Juga Boleh Menggayakan Fesyen Terkini Dengan Tampil Secara Bergaya

Tips Doa

Ketika Tidak Ada Satu Pun Jalan Keluar, Doa Mengubah Segalanya

Tips Kesihatan

Tetapi Sewaktu Susah Kita Akan Lebih Menghargai Kesihatan

Tips Perkahwinan

Carilah Calon Suami Atau Isteri Yang Boleh Membahagiakan Kamu..Tak Comel Tak Apee..Boleh Tutup Lampu

Tips Kecantikan

Kecantikan Bukan Hanya Terpancar Dari Wajah Tapi Juga Perlu Kecantikan Hati Untuk Membuatnya

Sayangi Orang Di Sekeliling Anda, Bukan Harta Benda

Allah SWT berfirman bahawa Dia telah menjanjikan kita Syurga dan segala macam keindahan bila kita mendengar perintahNya. Tapi apa yang jadi bila kita biarkan Syaitan mengganggu perjalanan kita? Apa yang jadi bila keluarga yang kita bila hancur disebabkan bisikan Syaitan?

Hakikatnya Allah SWT sudah memberi amaran bahawa kita akan diuji:

Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar: (QS Al-Baqarah 2:155)

Dan juga;

Dan ketahuilah bahawa harta benda kamu dan anak-anak kamu itu hanyalah menjadi ujian, dan sesungguhnya di sisi Allah jualah pahala yang besar. (QS Al-Anfaal 8:28)

Sepanjang hidup kita, Syaitan akan sentiasa memperdayakan kita. Syaitan akan buat anda percaya bahawa kejayaan dan harta dunia adalah segala-galanya. Dia akan buat anda rasa hidup anda lengkap bila anda kaya dan dikagumi oleh orang ramai.

Sedangkan kejayaan kita sepatutnya diukur apa yang digariskan oleh Allah SWT.

Jadi kenapa anda boleh menerima bisikan Syaitan dan ingkar pada Allah SWT sedangkan Allah dah janji bahawa hanya Dia yang boleh berikan kita kejayaan yang sebenar. Kerja utama Syaitan adalah untuk menyesatkan manusia, dan ia bermula dari hubungan sesame keluarga.

Hubungan keluarga yang tak stabil akan memecahbelahkan masyarakat dan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai Islam yang sebenar. Syaitan tak semestinya perlu putuskan hubungan kekeluargaan; dia cuma perlu melalaikan anda dengan harta, kemasyuran dan kejayaan. Bila anda ada kereta besar, rumah cantik, dan gajet-gajet terkini. Syaitan akan pastikan anda ghairah mengejar harta dunia hingga lupakan Allah SWT.

Tapi bila sampai Hari Pengadilan, Syaitan tak akan ada dengan anda. Dia hanya akan bersorak bila berjaya sesatkan manusia.
Jadi kenapa ada orang yang masih mahu mengikut perkara lain selain Allah SWT? Dalam hidup ini, Syaitan akan buat anda rasa seakan-akan anda dah ada segalanya sampai anda tak perlukan Tuhan lagi. Tapi di Akhirat nanti, anda akan terdiri di kalangan orang-orang yang kalah.

Pengajarannya, yakin pada Allah. Lindungi rumah dan keluarga anda dari perangkrap Syaitan. Ajarkan keluarga anda nilai-nilai kasih sayang dan Islam, bukan nilai harta benda.

Baca Al-Quran di setiap masa lapang and sentiasa minta ampun dari Allah SWT serta ikut perintahNya. Sesungguhnya dari Dia kita datang dan kepada Dia kita akan pulang.

(2)

Amalkan Cara Ini Untuk “Cairkan” Hati Suami

Umum tahu bahawa lelaki suka baiki dan selesaikan masalah. Sifat yang satu ini memang sudah tertanam dalam diri mereka. Jadi sebagai wanita, gunakan sifat ini untuk berkomunikasi dengan pasangan anda.

Bila anda mahu dia bersihkan rumah, kebanyakan isteri akan gunakan ayat seperti, “Sepahnya bilik ni… Bersihkan sekarang!”. Bila anda berkata begini, ianya hanya kedengaran seperti satu bebelan dan suami akan rasa tak dihormati. Tapi bila anda bijak berkomunikasi, anda boleh kata, “Saya nak minta tolong sesuatu. Boleh tak awak fikirkan cara untuk pastikan bilik ini sentiasa kemas?”

Ingat, lelaki suka lakukan perkara yang akan buat mereka rasa dihargai, dan tak suka lakukan apa-apa yang disuruh.

Mengarah, mengeluh, dan membebel hingga dia buat apa yang anda mahukan hanya akan buat dia rasa seperti hamba, bukan pasangan yang dihormati dan dipercayai. Jadi kalau anda mahu dia lakukan apa-apa, minta sekali sahaja dan dengan cara yang betul.

Hakikatnya, wanita boleh dapat apa saja yang mereka mahukan, kalau kena caranya. Mulai hari ini, mula dengan tukar intonasi suara anda, biar dia selesaikan dalam masanya sendiri, pilih perkara-perkara yang penting, fahami apa yang penting bagi dia, dan jangan sekekali tunjukkan rasa tak puas hati dengan mengambil alih tugas dia.

Sebagai isteri, anda kena pandai memujuk dan bercakap dalam lenggok yang boleh “mencairkan” hati pasangan anda. Ini adalah satu “kemahiran” yang hanya ada pada para isteri saja. Jadi tukar cara anda, dan guna cara ini untuk perhebatkan hubungan anda dengan suami anda.

Paling baik, kalau anda boleh fahami suami anda dengan cara meminta dengan baik dan terangkan kenapa anda perlukan sesuatu diselesaikan dengan cepat.

Sebenarnya lelaki suka tunjukkan kebolehan mereka, tapi selalunya mereka akan tunggu orang lain minta bantuan mereka. Jadi wanita kena fahami fitrah lelaki ini dan jangan terlalu berhadap lelaki akan selesaikan semua masalah mereka tanpa dipinta. Bila anda perlukan bantuan lelaki pula, pastikan anda meminta dan bukan menyuruh.

Dalam hidup suami isteri, masing-masing mesti mainkan peranan untuk dapatkan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. Ada masanya anda akan rasa seakan anda seorang saja yang berusaha untuk anda berdua, tapi kalau tujuan perkahwinan kita adalah untuk menuju redha Allah, yakinlah yang Allah SWT nampak segala usaha anda.

(1)

Anak-anak di Era Digital dan Media Sosial

Selasa, 7 Safar 1438 H / 8 November 2016 04:47 wib

195 views

Oleh: Rena Erlianisyah Putri

Anak adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia. Ia tidak minta dilahirkan, tetapi karena orangtuanya lah anak hadir ke dunia. Anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik agar bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang membanggakan dan berhasil menjadi manusia yang ditakdirkan menjadi pemimpin dimanapun ia berada, apapun perannya.

Anak dan orangtua adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan, karena orangtua menjadi penentu keberhasilan anak-anaknya. Bukan hanya pendidikan, nilai-nilai yang dimiliki kedua orangtua dan ditanamkan kepada anak-anak adalah bekal bagi kehidupan mereka untuk berada di tengah-tengah masyarakat dan hidup di zaman yang semakin hari semakin penuh tantangan.

Tantangan-tantangan inilah yang harus dihadapi antara anak dan orangtua. Ada banyak hal disekitar mereka yang memiliki peran penuh manfaat tetapi sekaligus menjadi boomerang bagi mereka sendiri jika tak pandai memanfaatkannya.

Kehidupan Anak-anak yang Lahir di Era Digital dan Media Sosial

Teknologi yang semakin berkembang bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari, tetapi menjadi peluang jika bisa memanfaatkannya dengan bijak. Seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan berbagai media sosial lainnya yang sanggup mengubah dunia hanya dalam satu kali klik.

Anak-anak yang hidup di era digital dan media sosial seperti saat ini jelas berbeda dengan anak-anak yang lahir, besar serta tumbuh tanpa teknologi. Sehingga orangtua pun harus cepat beradaptasi dan banyak belajar untuk mendidik anak-anak mereka. Kini, bukan hanya orang-orang kaya saja yang bisa memiliki dan mengaksesnya, mulai dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas bebas mengaksesnya.

Berbagai kemudahan teknologi yang ada, menuntut orang-orang yang menggunakannya secara bijak. Tetapi anak-anak yang masih polos dalam berpikir dan sikapnya menjadi hal yang menakutkan jika tak ada yang bisa mengarahkan mereka. Maka peran orantua disini sangat penting, agar bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya yang hidup di era digital dan media sosial.

Anak-anak hari ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang sangat serius, seperti pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan, kasus sodomi, dan pornografi. Ini sungguh meresahkan. Bisa dibilang bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami darurat seksual.

881 Kasus Pelecehan Seksual Setiap Harinya

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan, berarti sekitar 881 kasus setiap hari. Angka tersebut didapatkan dari pengadilan agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus. Menurut pengamatan mereka, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 9% dari tahun sebelumnya.

Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual tersebut, tentu Orangtua harus melek dan waspada serta mempersiapkan segalanya agar anak-anak tidak lantass ikut-ikutan menjadi korban.

Tentu kita tidak lupa dengan kasus Yuyun (14 Th), siswa SMP di Bengkulu. Ia diperkosa secara bergilir oleh belasan remaja yang sedang mabuk minuman keras, lalu dibunuh. Pelakunya adalah remaja lelaki, kebanyakan masih remaja dan berstatus pelajar. Selang beberapa minggu kemudian, kembali muncul kasus pelecehan seksual lainnya yang dialami anak-anak perempuan berumur belasan tahun. Sungguh miris, karena korbannya adalah anak-anak berusia sekolah yang justru masa-masa sedang bermain dan belajar.

Pengaruh Digital dan Media Sosial pada Anak

Maraknya kasus pelecehan seksual tidak terlepas dari tanggung jawab anak itu sendiri, orangtua, masyarakat sekitar, pemerintah bahkan peranan media digital dan media sosial. Semuanya memilki peranan masing-masing. Selain karena ketidaktahuan si anak itu sendiri, anak yang lepas dari pengawasan orangtua ketika memainkan gadget dan media sosialnya menjadi salah satu penyebab yang lebih dominan. Mereka jadi sangat mudah mengakses apapun yang diinginkan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi. Dengan berbagai kebebasan tersebut, anak-anak jadi hilang kendali bahkan bisa melakukan lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Hal itu terbukti ketika banyak anak-anak yang juga seorang pelajar menjadi pelaku kejahatan seksual tersendiri.

Media televisi pun tak luput dari perhatian. Akibat sering memberitakan terus menerus tentang pelecehan seksual, alih-alih membuat masyarakat waspada, yang terjadi justru kebalikannya, masyarakat jadi lebih trauma dan ketakutan. Bahkan menjadi contoh sehingga banyak masyarakat yang jadi ikut-ikutan melakukan hal serupa.

Disinilah pemerintah seharusnya memberikan perhatian yang lebih serius. Selain memberikan hukuman yang layak, pemerintah juga harus memperhatikan sisi lainnya. Jika dengan adanya pemberitaan malah membuat masyarakat semakin resah dan berdampak negatif, maka harus segera diberi tindakan agar tidak lagi ada korban yang berjatuhan.

 

Orangtua Adalah Benteng Pertama

Uji Marshmallow

Siapa yang tak kenal dengan uji marshmallow? Menurut penelitian tersebut, ketika seorang anak berhasil menahan keinginannya lebih lama mengambil marshmallow, maka pilihan sikap ini turut mempengaruhi kehidupan mereka.

Hal tersebut sudah terlebih dahulu dibuktikan para ilmuwan disana. Mereka memiliki data kehidupan masa depan anak-anak yang pernah melakukan uji marsmallow tersebut. Anak yang dulunya berhasil menahan lebih lama, kehidupan dewasanya lebih bahagia dan memuaskan seperti pendidikan, karir dan pernikahannya. Anak-anak ini dinilai lebih teruji dengan masalah-masalah yang dihadapi karena kemampuannya mengendalikan diri pada kenikmatan yang harus mereka tunda untuk mendapatkan kenikmatan yang memiliki jangka panjang. Sebaliknya, anak-anak yang tidak berhasil dan mudah tergoda mengambil marshmallow, dinilai kehidupan dewasanya kurang begitu memuaskan karena terbiasa kalah dengan godaan-godaan sesaat membuat mereka lemah dan mudah menyerah dengan tantangan yang dihadapi.

Bekali Diri dengan Ilmu

Orangtua Indonesia perlu belajar dari penelitian ini. Bagaimana orangtua memberikan nilai-nilai mengendalikan diri dari hal-hal negatif yang bersifat merusak. Tentu tidak mudah memang, karena butuh proses agar anak paham serta sadar akan nilai pengendalian diri ini. Tetapi tentu bukan menjadi sulit, jika para orangtua secara sadar harus memberikan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan anak-anaknya kelak.

Pendidikan yang berawal dari rumah selalu lebih efektif dibandingkan apapun. Dari rumahlah semua nilai diberikan. Orangtua harus dengan sadar mendidik anak-anaknya agar tidak dididik oleh jamannya. Orangtua perlu menanamkan nilai-nilai yang kelak berguna bagi masa depan anak.

Ketika orangtua menjadi pendidik pertama sebelum yang lainnya. Orangtua menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Dengan peranan ini, orangtua dituntut memiliki bekal nilai-nilai yang nantinya akan diwariskan kepada anak. Maka orangtua haruslah pandai, mereka harus belajar agar bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Selain peran pemerintah juga ikut memfasilitasi para orangtua dengan pendidikan yang mumpuni untuk menghadapi anak-anaknya, apapun keadaannya, orangtua harus mau membekali dirinya dengan ilmu agar anak-anaknya kelak menjadi orang yang membanggakan, berguna bagi bangsa, agama dan negaranya.

Awasi Anak-Anak Saat Bermedia Sosial

Peranan orangtua dalam mengawasi anak-anak saat bermedia sosial atau menggunakan gadgetnya sangatlah penting. Orangtua harus siap mendampingi anak-anaknya untuk mengarahkan cara bermedia social yang positif. Pengawasan ini juga menjadi bentuk tanggung jawab orangtua agar anak-anak tidak salah langkah atau bahkan mencari tahu hal-hal yang tidak layak dikonsumsi. Selain pengawasan yang ketat, orangtua juga bisa memasang pengamanan dalam media bersosial. Saat ini sudah banyak aplikasi khusus yang diperuntukkan orangtua dalam mengawasi anak-anaknya.

Hal terpenting dari penyelamatan moral anak-anak sebagai generasi penerus bangsa adalah kerjasama dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, instansi, organisasi sosial masyarakat, orangtua, dan dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak adalah para penerus calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Tentu, pendidikan moral dan karakter yang ditanamkan sejak dini akan berdampak ketika mereka sudah dewasa dan memiliki kapabilitas serta kekuatan karakter kepemimpinan untuk memimpin bangsa Indonesia kelak. [syahid/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Erti Bahagia Yang Sebenar

Tahun ini merupakan tahun kelapan perkahwinan saya. Sepanjang lapan tahun hidup bersama suami, saya tidak nafikan pelbagai onak dan ranjau terpaksa kami tempuhi. Kadang kala sedang kami asyik mengecap manisnya kebahagiaan, tiba-tiba saja terasa akan kepahitannya. Dalam kami ketawa, tiba-tiba saja terasa ada tangis sendunya. Pelbagai rencam.

Orang-orang dulu selalu kaitkan perkahwinan semacam sebuah kapal yang sedang berlayar. Perjalanannya jauh. Kadang-kadang laut tenang dan kadang kala bergelombang. Disebabkan ketidaktentuan ini, kebijaksanaan dari nakhoda dan anak kapal amat diperlukan. Suami yang menjadi nakhoda, isteri yang menjadi anak kapal perlu saling membantu dan bekerjasama untuk memastikan pelayaran menuju destinasi gemilang.

Teringat saya ketika mahu berkahwin dulu. Saya yang begitu idealis mengenai perkahwinan hanya menggambarkan yang indah-indah saja. Bagi saya, perkahwinan adalah satu destinasi. Saya telah sampai ke destinasi itu dan saya hanya perlu merasakan kebahagiaan abadi.

Namun ternyata perkahwinan bukan seperti yang saya gambarkan. Saya tidak nafi kan dua tiga bulan bersama, saya merasakan satu kejutan budaya. Walaupun tidak dinafikan suami yang dikahwini adalah pilihan sepenuh hati, namun perbezaan-perbezaan dan perselisihan-perselisihan pendapat dan tingkah laku ternyata begitu merengsakan. Ketika itulah terdapat lintasan-lintasan hati bahawa perkahwinan sebenarnya hanya menyakitkan dan melemaskan.

Kadang-kadang berendam juga air mata apabila kemahuan sendiri tidak dapat ditunaikan suami. Apalagi apabila tiba musim-musim perayaan. Kehendak untuk balik ke kampung sering tidak dapat dipenuhi disebabkan suami tidak mendapat cuti. Masa itulah terfi kir bebasnya hidup bujang, hendak ke mana saja bebas, lepas terbang.

Namun orang-orang yang berkahwin ini sememangnya perlu mempunyai keimanan kalau tidak pun kesabaran yang tinggi. Walaupun berkocak jugalah rumah tangga, namun pengenalan kepada agama, dosa pahala ternyata mampu menenangkannya kembali.

Kadang-kadang terfikir-fikir juga kalau dengan adik beradik yang hidup serumah sejak lahir pun kita masih berselisih faham, apalagilah dengan suami yang hanya beberapa tahun dikenali. Tentulah banyak perilaku dan tabiat yang perlu difahamkan dan diterima secara beransur-ansur dan seadanya.

Bagi saya, kesilapan yang dilakukan oleh kebanyakan kita dalam melayari alam rumah tangga ialah harapan yang terlalu tinggi terhadap suami. Kita mengharapkan suami sebagai `mutual companion’ – saling bersetuju, sentiasa memahami, tidak pernah berselisih faham, tempat mengadu segala-galanya. Cukup sempurna!.

Walhal suami kita tidak lebih hanyalah manusia biasa. Yang sering melakukan kesilapan, yang kadang-kadang `angin’nya baik, kadang-kadang tidak. Yang mungkin tidak berharta, yang mungkin tidak berpangkat tinggi seperti suami orang lain. Di manakah kita mahu mencari kesempurnaan dalam diri manusia kalau dia sendiri adalah makhluk yang diciptakan bukan pencipta?

Baru-baru ini hati saya jadi begitu parah apabila teman baik saya sendiri tiba-tiba saja memberitahu mengenai berita penceraiannya. Menurut beliau rumah tangganya tidak dapat diselamatkan lagi dan dia sendiri memilih jalan untuk berpisah.

Saat mendengar berita itu, badan saya menggeletar. Lutut saya menjadi lemah sehingga saya terduduk dan tidak mampu berdiri. “Apa salah dia?” Saya benar-benar tidak puas hati dan menjadi sakit hati apabila melihat wajah selamba teman saya. “Dah boringlah. Dah menyampah!” katanya.

“Itu saja?” Saya meninggikan suara.

“Banyak lagi, tapi yang penting aku dah boring! Dah menyampah!”

Memang saya amat marah dengan tindakan rakan saya. Walaupun saya tahu saya tidak mempunyai hak untuk mencampuri urusan perkahwinannya namun saya tidak boleh menerima alasan dan tindakannya. Tambah-tambah lagi apabila saya mengenang tiga orang anaknya yang masih kecil dengan yang bongsu baru hendak pandai merangkak!

“Budak-budak macam mana?” Saya mengutarakan persoalan sengaja meletak kebimbangannya.

“Ala…bukan tak boleh hidup. Tak ada bapak pun boleh hidup!,” katanya selamba.

Saya hiba sepanjang memandu pulang ke rumah. Entah apalah kesalahan suaminya hingga teman saya sanggup meminta cerai dengan cara yang begitu memalukan dan tragis sekali. Saya teringat-ingat suaminya yang begitu berhemah, penyabar dan sangat-sangat menyayangi anakanak. Kekurangan beliau yang jelas di mata saya cuma satu – dia tidak berpangkat besar, berkereta kecil dan tidak hidup mewah.

Saya tahu, hakikatnya rakan saya tidak tertahan lagi untuk terus hidup bersederhana. Sepanjang mengenali dirinya saya faham dia mempunyai pelbagai impian. Malangnya impian-impian dan selera-seleranya tidak dapat dipenuhi oleh suaminya sehingga akhirnya menimbulkan ungkit mengungkit, tidak puas hati dan langsung bercerai.

Bagi saya, teman saya ini bukan hanya mementingkan diri sendiri tetapi mengharapkan yang bukan-bukan dari suami. Terlalu sangat dia mengharapkan suaminya bertukar menjadi seorang yang sempurna serba-serbi, bijak, kaya, banyak harta, segalanya. Impian untuk mendapatkan kesempurnaan daripada suami ini ternyata memerangkap diri sendiri sehingga akhirnya sanggup mengorbankan kebahagiaan anak-anak yang kini hidup tanpa ayah di sisi.

“Tak bolehkah kau sabar sikit?” saya menyuarakan pertanyaan berkenaan perceraiannya satu hari.

“Aku dah lama bersabar. Aku berkahwin sebab nak bahagia, bukan derita..” katanya. Saya maklum. Seperti saya juga dahulu, konsep perkahwinan sebagaimana yang difahami oleh rakan saya – perkahwinan adalah kebahagiaan. Bahawa perkahwinan adalah destinasi untuk mengecap kebahagiaan.

Walhal perkahwinan itu tidak lebih daripada satu persinggahan dan perjalanan panjang yang penuh dengan lorong-lorong beranjau. Kita sememangnya perlu melalui lorong-lorong ini dengan penuh bijaksana dan berhati-hati untuk memastikan kebahagiaan yang kita kecapi nanti adalah kebahagiaan yang hakiki

(16882)

8 Sebab Kenapa Lelaki Suka Beristerikan Perempuan Seperti Warda Erina

Beberapa minggu ni Malaysia seakan “demam” dengan drama Tv bertajuk Suri Hati Mr Pilot yang dibintangi oleh Fattah Amin dan Neelofa. Mana taknya, kedua-dua bintang yang lahir dari pertandingan Hero Remaja dan Dewi Remaja anjuran majalah Remaja ini sama cantik, sama pandan. Dua-dua masih muda tapi dah bekerjaya, sesuai sangat dengan watak yang dibawa. Sampaikan ramai yang “angau” dan nak suami seperti Ejaz Fakri dan isteri seperti Warda Erina.

Walaupun ramai yang merasakan konflik yang berlaku dalam rumahtangga mereka sebenarnya disebabkan oleh sikap berahsia Warda, tapi ramai lelaki masih tergila-gilakannya. Kenapa ya?

1. Berdikari

Suaminya bekerja sebagai pilot, jadi Warda selalu ditinggalkan berseorangan. Walaupun begini, Warda tak pernah merengek malah sentiasa beri sokongan dan beri semangat pada suaminya untuk melakukan tanggungjawabnya.

Sepanjang ketiadaan suaminya, Warda pandai jaga diri. Kadang-kadang tinggal sendiri, kadang-kadang pulang ke rumah keluarganya. Apa-apa pun, dia pasti “survive”!

2. Sentiasa jaga penampilan diri

Tengoklah babak mana pun, tak ada yang tak cantik! Sama ada di rumah, berjalan-jalan, di tempat kerja, Warda sentiasa nampak kemas dan menarik. Tak perlu bersolek tebal pun, penampilannya tetap kemas dan bersih. Bak kata orang, sejuk mata memandang.

3. Boleh mengaku salah sendiri

Semua orang pernah buat silap. Sama juga dengan Ejaz, dan sama juga dengan Warda. Silap pertama Warda adalah bila dia pilih untuk utama cinta pertamanya, Muslim, dari ibu bapanya sendiri. Tapi bila dia dah balik dan kemudian berkahwin dengan Ejaz, Warda tetap mengaku salahnya, minta maaf dan janji untuk tebus semula kesilapannya.

4. Jaga makan minum suami

Dari awal perkahwinan hingga perpisahan sementara mereka, walau semarah mana pun hatinya pada suaminya, Warda tetap akan pastikan makan minum suaminya terjaga dan terhidang sebelum dia keluar ke tempat kerja. Mana suami tak sayang!

5. Berkerjaya

Walaupun dibuang keluarga, alhamdulillah Warda masih berjaya bina hidupnya sendiri. Semasa mula-mula bertemu dengan Ejaz, lelaki itu bekerja sebagai seorang pilot, manakala Warda pula seorang engineer yang selalu ke luar negara.

6. Pandai menangi hati keluarga suami

Selepas beberapa bulan berkahwin, baru Warda tahu yang sebenarnya nenek Ejaz tak suka padanya.

Dalam situasi ini, ada isteri yang memilih untuk terus menjauhkan diri. “Biarlah dia tak suka aku, dia bukan suami aku pun…”. Hakikatnya kita perlu berkeluarga. Jadi Warda pun mengambil langkah matang untuk usaha menangi hati keluarga suaminya dengan pelbagai cara. Akhirnya, berjaya juga!

7. Usaha jaga hati suami

Walaupun ramai yang tak setuju dengan tindakan Warda untuk merahsiakan masalah yang dihadapinya dari Ejaz, sebenarnya niat Warda hanyalah untuk menjaga hati suaminya suapa Ejaz tidak perlu risau dengan perkara yang dianggap remeh.

8. Setia

Walaupun berpisah selama 4 tahun dengan suaminya dan terpaksa susah payah membesarkan anak seorang diri, Warda tetap setia dengan cinta terhadap suaminya, Ejaz Fakri.

Sumber gambar: Fav Drama

(2)

Mualaf Victoria: Dari Keyakinan Pagan Menuju Islam Kaffaah

Ahad, 5 Safar 1438 H / 6 November 2016 12:01 wib

60 views

Assalamu’alaikum. Namaku Victoria. Pertama kali aku belajar Islam yaitu di bulan Februari 2014. Saat itu orang menganggap aku menganut peyakinan Pagan. Tapi entah mengapa, aku merasa ada yang salah dengan semua ini. Aku pun kemudian tertarik untuk mempelajari Islam.

Di agama yang sama sekali baru ini yaitu Islam, aku mulai  belajar tentang cara berpakaian mereka yaitu seputar hijab, niqab dan burqa. Kemudian barulah aku mempelajari tentang hal lainnya seperti keimanan di dalam Islam dan apa saja yang diimani oleh Muslim. Aku ingin mempelajari Islam secara keseluruhan.

Dalam proses mengenal Islam lebih baik, aku bertemu dengan seorang muslimah yang cantik dan baik. Namanya Shaza. Aku mengenalnya lewat situs World Hijab Day. Dialah yang banyak membantu dalam perjalananku untuk memahami Islam.

Aku terus mempelajari Islam hingga di satu titik aku merasa bahwa aku mulai mempercayai adanya Tuhan. Satu rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Waktu pun berlalu, saat itu bulan Juni 2014. Aku mulai mengakui bahwa Islam adalah jalan kebenaran.

Bertepatan saat itu, Shaza mengirimiku Al Quran terjemahan bahasa Inggris. Aku pun membacanya. Isinya cukup membuatku terkejut dan merasa bahwa Tuhan sedang mengujiku. Isinya cukup membuatku ‘tertekan’ tapi pada saat yang sama aku tak bisa berhenti membacanya. Bahkan aku merasa mulai mencintai kitab ini.

...Pertanyaanku dulu yang semula ‘Bagaimana mungkin Tuhan itu ada?’ berubah menjadi ‘Bagaimana mungkin Tuhan itu TIDAK ada?’...

Al Quran mengajariku bahwa penyerahan diri secara total adalah cara untuk menerima keberadaan Tuhan. Tuhan dalam hal ini yang bernama Allah begitu Mahabesar sungguh tak bisa dibandingkan dengan apapun jua. Pertanyaanku dulu yang semula ‘Bagaimana mungkin Tuhan itu ada?’ berubah menjadi ‘Bagaimana mungkin Tuhan itu TIDAK ada?’

Di bulan Juli, aku memutuskan untuk memakai hijab sepanjang hari dan mulai berpikir untuk masuk Islam. Keyakinanku dalam hal ini sudah mencapai 90%. Aku pun ikut hadir salat Jumat di masjid dekat tempatku tinggal. Itu adalah pertama kalinya aku berdoa seperi muslim lainnya berdoa. Dan saat itu adalah pertama kalinya juga aku berada di dalam masjid. Setelah hari itu aku semakin yakin 100% bahwa aku akan masuk Islam dan memakai hijab selamanya.

Tak butuh waktu lama, aku pun bersyahadat dan masuk Islam. Aku merasa semua perubahan dan perjalanan mencari iman ini sungguh menakjubkan. Subhanallah!

Islam telah menjadikanku menjadi sosok yang lebih baik. Aku menjadi pribadi yang lebih sederhana, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih mudah dalam memberi. Aku tidak peduli apa yang dikatakan orang tentangku. Itu karena aku mencintai Allah, Islam, hijabku, dan jalan kebenaran yang sedang kutempuh ini.

Alhamdulillah orang-orang yang kucintai mendukung keputusanku ini dengan sepenuhnya. Sungguh, tak ada yang bisa diucapkan kecuali rasa syukur yang dalam dan itu semua tertuju hanya untuk Allah saja. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Sumber: islamconverts

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

7 Perkara Menakjubkan Tentang Khadijah, Isteri Nabi Muhamad SAW

Namanya Khadijah binti Khuwailid. Beliau merupakan isteri Nabi Muhamad SAW. Beliau hidup sekitar 1400 tahun yang lalu tapi sehingga hari ini masih memberi inspirasi dengan caranya menjaga Nabi Muhamad SAW. Beliau juga berjaya menunjukkan apa yang boleh dicapai oleh seorang wnaita yang beriman, bermaruah dan berani.

Tujuh perkara yang anda mungkin tak tahu tentang Khadijah yang mengagumkan:

1. Beliau adalah seorang ahli perniagaan yang berjaya dan dihormati

Bapanya dulu seorang ahli perniagaan yang berjaya di kalangan bani Quraisy. Khadijah pun mewarisi banyak kemahiran ayahnya walaupun pada masa itu, kebanyakan wanita hanya duduk di rumah dan lelaki yang keluar mencari rezeki.

Bila ayahnya meninggal, Khadijah mengambil alih lalu mengembangkan perniagaan itu. Beliau jujur, sentiasa tahu apa langkah yang terbaik dan dapat menguruskan perniagaanya dengan baik tanpa merendahkan maruahnya sebagainya seorang wanita

2. Beliau pernah menolak banyak lamaran pernikahan

Dengan reputasi beliau sebagai seorang ahli perniagaan yang berjaya serta akhlaknya yang tinggi, ramai lelaki yang mahu melamarnya menjadi isteri. Neliau pernah berkahwin dua kali sebelum bernikah dengan Nabi Muhamad SAW. Beliau ada anak dari kedua-dua perkahwinan ini dan kedua-dua suaminya meninggal, menjadikannya balu.

Mungkin hasil dari pengalaman ini, beliau jadi agak memilih dan takut untuk kehilangan lagi, sehinggalah beliau berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

3. Beliau yang melamar Nabi Muhamad SAW untuk mengahwininya

Kadang-kadang cinta akan hadir bila kita tak lagi mencari. Khadijah RA tak perlukan seorang lelaki untuk menjaganya, dan keadaan kewangan Nabi Muhamad SAW pada masa tak begitu kukuh untuk melamar seorang isteri.

Melalui akhlak Nabi Muhamad SAW yang mulia, Khadijah RA jatuh cinta padanya. Khadijah pun melamarnya melalui pakciknya, Abu Talib dan Nabi Muhamad SAW pun setuju.

4. Beliau berumur 15 tahun lebih tua dari Nabi Muhamad SAW

Kisah cinta mereka bukan seperti kisah cinta yang biasa kita lihat sekarang. Beliau berumur 40 tahun ketika beliau mengahwini Nabi Muhamad SAW. Baginda pula berumur 25 tahun.

5. Beliau seorang isteri yang sempurna

Pada zaman itu, berkahwin ramai adalah perkara biasa. Tapi pula dengan pasangan ini, Nabi Muhamad SAW hanya beristerikan Khadijah RA seorang saja hingga Khadijah meninggal 25 tahun kemudian.

Nabi Muhamad SAW menerima wahyunya yang pertama ketika Khadijah masih isteri Baginda. Pertemuan dengan Malaikat Jibril menjadikan Baginda takut, tegang dan keseorangan bila tak ada orang yang percayakannya. Khadijah RA lah yang menenangkan dan memberi semangat pada Baginda di saat-saat paling sukar dalam hidupnya.

Khadijah melahirkan enam orang anak Baginda SAW; dan Baginda SAW tak pernah mencintai seseorang lebih dari Khadijah RA.

6. Beliau merupakan penganut Islam yang pertama

Ibu kepada orang-orang Islam ini adalah orang pertama yang menerima Nabi Muhamad SAW sebagai Rasul yang terakhir beserta dengan ayat-ayat Al-Quran. Beliau menginfakkan harta-harta duanianya dan berdiri teguh di sisi Nabi Muhamad SAW walaupun bila bahaya datang demi mengukuhkan Islam di mata masyarakat sekeliling.

7. Beliau menghabiskan harta bendanya untuk membantu orang miskin

Kaya atau miskin, harta benda kita sebenarnya adalah satu ujian. Khadijah RA memberi pendapatannya kepada golongan miskin dan anak-anak Yatim, ibu tunggal dan orang sakit.

k88-624x421

(3)